Sunday, 5 July 2009

Resensi Buku Baru | Footnotes, Hidup Tanpa Batas


Judul Buku : Footnotes, Hidup Tanpa Batas
Penulis : Lena Maria Klingvall
Penerbit : Dastan Books
Terbit : Mei 2009
Tebal : 245 Halaman


Catatan Kaki yang Mengentak Dunia

MEMBACA buku Footnotes, Hidup Tanpa Batas karya Lena Maria Klingvall, begitu mengentak kesadaran. Ketidaksempurnaan fisiknya seakan telah menampar kita semua yang dianugerahi kesempurnaan untuk bangun, bangkit, dan berkarya. Meski terlahir dengan satu kaki, tanpa tangan dan kaki kiri yang cacat, perempuan kelahiran Stockholm, Swedia, mampu menerabas segala rintangan yang dianggap tak mungkin dilakukan.

Sejak dilahirkan ke dunia, Lena telah disambut dengan kesedihan dan cucuran air mata kedua orangtua serta keluarganya. Kehadiran seorang bayi yang seharusnya disertai kebahagiaan berubah menjadi duka, karena Lena terlahir dengan fisik tidak sempurna. Dengan berat 2,4 kilogram, Lena terlahir tanpa lengan dan kaki kiri yang tak sempurna, hanya kaki kanannya yang normal.

Ayahnya yang berdinas sebagai tentara dan ibunya begitu syok dan dirundung kesedihan melihat kondisi anak pertama mereka. Kesedihan mereka bertambah karena dokter yang menanggani tak yakin kalau anak mereka bisa bertahan hidup. Rumah sakit pun menyarankan agar kedua orangtua Lena menyerahkan perawatan anaknya kepada mereka.

Setelah tiga hari kelahiran, Lena menunjukkan keceriaan layaknya bayi normal dan menyusu dengan kuat. Hal itu membuat ayahnya memutuskan merawat dan membesarkan Lena sendiri. “Cacat atau normal, seorang bayi tetap membutuhkan tempat tinggal yang nyaman,” ujarnya.

Lena diasuh penuh kasih sayang dan diajarkan agar bisa mandiri di lingkungan pedesaan yang sederhana di Klerebo. Setahun kemudian Lena memiliki seorang adik perempuan dan terlahir normal bernama Olle. Meski Lena tak sempurna, kedua orangtuanya tak pernah memberikan perlakuan khusus.

Lena diajak berkebun, membantu ayahnya memelihara ternak, dan bermain bersama. Tujuannya memperlakukan Lena layaknya anak normal dan agar tidak minder dalam pergaulan. Bahkan ketika menghadapi kesulitan Lena diajarkan untuk mengatasi sendiri. Misalnya saat terjatuh, ibunya membiarkan Lena yang menangis minta tolong dan menyuruhnya merangkak ke pagar, lalu dijadikannya penyangga untuk berdiri.

Tumbuhlah Lena menjadi anak yang penuh percaya diri, mandiri, sekaligus ceria. Bahkan rasa ingin tahunya yang besar melebihi anak normal lainnya. Dia senang melukis, menjahit, dan berenang meski hanya menggunakan kaki kanannya, di samping hobinya menyanyi.

Akhirnya Lena mampu mewujudkan mimpinya meraih prestasi di bidang olahraga, seni, dan berkeliling dunia. Dia terpilih sebagai atlet renang nasional Swedia pada Paralympic Games di Korea Selatan 1988. Menerima beasiswa University College of Music Stockholm dan Berkeley College of Music di Amerika Serikat atas beasiswa Ratu Swedia Silvia.

Lena pun secara rutin mengunjungi beberapa negara, seperti Jepang, India, dan Amerika Serikat untuk menggelar konser menyanyi dan mengisi acara inspirasi di televisi. Dia membuktikan kepada semua orang dan dunia, keterbatasan fisik tak menghalangi seseorang untuk berprestasi dan mewujudkan mimpinya.

Kisah hidup, perjuangan, dan pengalaman Lena ditulis secara apik dalam buku Footnotes yang diterbitkan Dastan Books. Begitu mengagumkannya perjalanan hidup Lena, membuat buku yang telah diterjemahkan dalam lima bahasa ini selalu menjadi best seller. Anda pun sebaiknya jangan melewatkan buku setebal 245 yang penuh inspirasi ini.

Dalam bukunya ini Lena mengajak semua orang membuka pikiran bahwa orang yang tidak sempurna bisa meraih prestasi dan berguna. Kuncinya hanya diberikan perlakuan dan kesempatan yang sama. Sehingga orang yang tak sempurna secara fisik tak merasa terasingkan. Lena yang ketika lahir disambut tangis dan kesedihan, mampu mengubahnya menjadi kebahagiaan serta menemukan cinta sejati seperti orang yang terlahir sempurna.

Melalui Footnotes, Lena mengajak kita merenungi, bahwa banyak orang yang sempurna gagal menemukan tujuan hidup dan kebahagiaan karena membatasi diri sekaligus menganggap dirinya tak sempurna. Lebih parah, banyak orang yang sempurna lebih senang membuat orang lain menjadi ‘cacat’ sehingga hidupnya terbelenggu dan penuh duka. (wasis wibowo)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment