Thursday, 10 September 2009

Resensi Buku Baru | The Roger Federer Story


Judul: The Roger Federer Story, Quest for Perfection
Penulis: Rene Stauffer
Penerbit: Andi
Terbit: November 2008
Tebal: 434 Halaman

Kesempurnaan Roger Slam

UNTUK meraih kesuksesan yang sempurna dalam sebuah karier seharusnya tidak membuat seseorang hanya terpaku pada target-target yang akan dicapai dan pelbagai strategi yang diterapkan. Bukan juga berambisi menghabisi semua pesaing tanpa ampun agar bisa melenggang ke puncak tanpa mau memberi ruang toleransi terhadap pada sebuah kegagalan.

Itu bukan karakter seorang jawara sejati, sesungguhnya dia telah berubah menjadi robot yang hanya dipenuhi hitungan statistik. Andai deretan prestasi berhasil ditorehkan, itu hanya akan menjadi saksi bisu hilangnya sebuah jiwa.

Sejatinya kesuksesan yang sempurna adalah sebuah sikap sederhana yang mau menghargai setiap langkah kecil yang diraih sebelum berubah menjadi lompatan-lompatan yang besar. Mau mengakui kesalahan strategi yang diterapkan dan bersedia menerima kehadiran pesaing untuk berkompetisi secara jantan untuk menuju puncak takhta.

Karena kesuksesan yang sempurna merupakan perpaduan unik antara ketabahan menjalani sebuah perjuangan dan keberanian berkreativitas tanpa khawatir dicibir. Kesempurnaan akan semakin kentara dengan kesediaan menggulurkan tangan untuk bergandengan dengan lawan-lawan, ketika kesuksesan tengah mendatangi kita.

Kesuksesan yang sempurna bukanlah berhiaskan deretan prestasi gemilang dan tumpukan hadiah, tapi hadirnya sebuah jiwa baru yang hangat sekaligus simpatik. Sebab, kesempurnaan bukan hanya berisi torehan prestasi yang mulus, namun adanya keberanian berekonsiliasi dengan takdir dan kesalahan.

Itulah pelajaran tentang kesuksesan sempurna yang dapat diambil dalam buku Roger Federer Story, Quesr for Perfection yang ditulis Rene Stauffer. Buku yang diterbitkan penerbit Andi ini merekam secara detail perjalanan dan perjuangan petenis asal Basel, Swiss meniti karier dari bawah sampai menjadi juara Gran Slam lebih dari sepuluh kali. Begitu cemerlangnya karier lelaki kelahiran 8 Agustus 1981 ini di gelangang tenis membuatnya dijuluki Roger Slam.

Buku setebal 434 halaman ini berisi banyak hal menarik, bukan sekadar menyajikan perjuangan dan kemauan keras Federer menjadi petenis nomor satu di dunia, juga menonjolkan sisi humanis anak pasangan Robert Federer dan Lynnette Durrand. Meski memiliki bakat yang besar dan pernah meraih juara nasional Swiss pada usia 11 tahun, Federer tak membiarkan ambisinya menjadi petenis terbaik di dunia membelenggu jiwanya, ketika memutuskan terjun ke tenis profesional pada usia 18 tahun.

Dia memasang target-target realistis sebagai langkah kecil, sebelum mewujudkan sebuah lompatan besar untuk meraih sukses. Mulai dari target bisa masuk daftar 100 pemain terbaik dunia. Lalu setahun kemudian diubah agar masuk 50 pemain terbaik, meningkat lagi menjadi jajaran 25 pemain terbaik, kemudian 10 pemain terbaik dunia, sampai akhirnya dia mampu mewujudkan menjadi petenis nomor satu dunia pada 2004.

Federer pun berjuangan menaklukkan karakternya yang mudah meledak-ledak ketika menerima kegagalan. Dia tak mau raketnya selalu menjadi sasaran kemarahannya setiap kali melakukan kesalahan. Sampai akhirnya dia menyadari bahwa untuk meraih kesuksesan kadang diselipi kegagalan. Seperti dalam tenis ada kalanya kita mampu melakukan pukulan ace untuk meraih poin, kadang kala kita melakukan double fault yang mengakibatkan kehilangan angka.

Ketika di puncak tertinggi sebagai petenis nomor satu dunia, Federer pun mampu menerima kehadiran lawan-lawan yang kerap menyulitkan. Baginya lawan bukan musuh yang sekadar harus ditaklukkan, tapi sebagai pemacu semangat untuk terus tampil konsisten.
Saat berjuang untuk meraih petenis terbaik dunia dia tak pernah menyerah untuk menghadapi tiga petenis yang kerap menyulitkannya, seperti Andre Agassi, David Nalbandian, dan Andy Roddick. Ketika sudah menjadi yang terbaik dia pun menikmati persaingan dengan petenis asal Spanyol Rafael Nadal.

Federer pun tak hanya berkutat dengan persaingan di lapangan tenis untuk mengisi hidupnya. Dia tak hanya memikirkan soal karier dan gelar petenis terbaik di dunia, meski telah memberinya kekayaan sebesar USD43juta. Ada kehidupan lain di luar lapangan tenis yang membuatnya lebih humanis, seperti bersahabat dengan idolanya Pete Sampras dan Tiger Wood. Atau melakukan kegiatan sosial menolong korban bencana di berbagai belahan dunia.

Begitulah kesuksesan yang sempurna ala Roger Slam. Penuh kreativitas di lapangan tenis, tetap humanis dalam kehidupan sehari-hari. (wasis wibowo)

Tuesday, 8 September 2009

Resensi Buku Baru | Rahasia Sukses Bisnis Internet


Judul : Rahasia Sukses Bisnis Internet
Penulis : Joe Vitale & Jo Han Mok
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Mei 2009
Tebal : 295 Halaman

Tip dan Trik Sukses Bisnis Internet

BOLEH jadi semua orang saat ini pasti sudah mengenal baik keberadaan fasilitas internet. Apalagi saat ini berbagai cara untuk mengakses internet begitu mudah. Bukan hanya perusahaan bonafide dan ternama saja yang bisa menyediakan fasilitas internet, di tempat umum atau di rumah semua orang bisa mengakses sendiri.

Tentunya dengan berbagai cara yang juga relatif mudah, seperti melalui telepon selular (ponsel) dan biaya pun cukup terjangkau. Intinya, internet bukan lagi barang mewah bagi masyarakat, karena sudah menjadi bagian dalam beraktivitas sehari-hari. Jadi rasanya aneh bila saat ini kita masih kesulitan mengakses internet.

Apalagi melalui internet semua orang berpeluang menjalankan bisnis, menghasilkan uang, dan meraih kesuksesan. Sah-sah saja bila banyak yang mencibir, bahkan mengatakan hanya omong kosong bisa mendatangkan uang melalui intenet, kecuali membuka warung internet (warnet). Sebab, berdasarkan statistik hanya 5% orang yang bisa sukses melalui internet dan sisanya 95% gagal atau tersesat di dunia maya.

Mengapa banyak yang gagal mengarungi dunia maya? Jawabannya hanya satu, mereka yang gagal itu tidak fokus dan tidak mampu mengidentifikasi kemampuan diri untuk diekspolarasi melalui dunia maya. Sebab, biasanya mereka terjebak dalam aktivitas yang konsumtif dalam berinternet, seperti keranjingan game online, kecanduan dengan berbagai jejaring situs sosial, dan tergoda mengunjungi dan mengunduh situs-situs syur.

Padahal bila bersungguh-sungguh terjun dalam dunia internet, peluang bisnis yang terhampar begitu luas dan cakupannya tak mengenal batas teritorial. Anda bisa go internasional hanya dengan duduk di depan komputer di rumah dan berbisnis berbagai hal. Dan, internet pun menyajikan berbagai jalan untuk berbisnis, mulai dari yang sederhana seperti penggunaan email, yang agak rumit dengan afiliasi dan membuat ebook, sampai menggunakan strategi marketing melalui search engine optimization (SEO).

Dalam buku Rahasia Sukses Bisnis Internet, Joe Vitale yang dijuluki “Sang Buddha Internet” dan Jo Han Mok pakar marketing internet menguak rahasia sukses menjalankan bisnis di dunia maya. Buku setebal 295 halaman terbitan Gramedia Pustaka Utama secara lugas, gamblang, dan praktis membeberkan kunci-kunci rahasia agar sukses berbisnis melalui internet.

Mulai dari hal sederhana dengan memaksimalkan email, afiliasi, dan membuat ebook. Ditulis dengan gaya bahasa lugas dan dibuat dalam kumpulan artikel pendek membuat Anda mudah mencerna serta memilih sesuai keinginan Anda. Buku ini cocok bagi Anda yang sedang merintis bisnis internet agar bisa semakin fokus dan mengoptimalkannya.

Kedua penulis ini pun membantu membuat rencana pemasaran, penentuan pasar, memilih komoditas yang cocok untuk dipasarkan. Mereka pun memberikan tips sederhana yang dahsyat agar produk yang Anda pasarkan menarik tanpa harus mengeluarkan energi dan biaya yang besar.

Buku ini memang bukan kitab sakti yang membuat bisnis Anda langsung moncer. Perlu ada kemauan dan tekad tak kenal menyerah untuk menjalankannya. Karena kebanyakan orang yang gagal bisnis melalui internet adalah orang yang mudah patah semangat dan menyerah ketika menemui jalan buntu. Dan, mengatakan bisnis di internet rumit dan membuat kepala pening. (wasis wibowo)

Monday, 7 September 2009

Resensi Buku Baru | Jakarta Transportations Guide


Judul: Jakarta Transportations Guide
Penulis: Rizal Khadafi
Penerbit: Bukune
Terbit: Mei 2009
Tebal: 105 Halaman

Panduan Berjalan-Jalan di Jakarta

SEBAGAI ibu kota negara, Jakarta memiliki pelbagai jenis sarana transportasi. Mulai dari busway yang begitu popular sebagai sarana transportasi baru, kereta api, taksi, angkutan kota, metro mini, sampai water way. Alhasil, seluruh penjuru Jakarta begitu disesaki berbagai sarana transportasi.

Bagi orang yang baru datang ke Jakarta tentu akan bingung dan bisa tersesat jika tak memiliki petunjuk yang jelas. Sebab, orang yang sudah lama tinggal di Jakarta saja bisa pusing kalau tak terbiasa naik kendaraan umum menuju satu lokasi.

Agar tidak tersesat dan bingung menentukan pilihan angkutan umum yang digunakan, ada baiknya Anda memiliki buku Jakarta Transportation Guide karya Rizal Khadafi. Sebab, buku setebal 105 halaman yang diterbitkan Bukune memberikan informasi tentang angkutan umum di Jakarta secara komplet.

Tak sekadar menyajikan berbagai jenis trayek, rute, jadwal, dan ongkos naik kendaraan umum, penulis menyajikan peta yang dilalui serta tips bepergian yang aman. Bahkan beberapa angkutan umum alternatif, seperti bajaj, kancil, dan ojek pun ikut ditampilkan sehingga memperkaya informasi bagi pengguna angkutan umum.

Sayang penulis tak menyingung soal water way, mungkin kurang praktis dan jarak tempuhnya yang terbatas. Meski demikian buku ini layak dijadikan panduan untuk jalan-jalan keliling Jakarta sudah semakin padat dan ramai. (wasis wibowo)

Sunday, 6 September 2009

Resensi Buku Baru | Mukjizat Puasa Ramadhan


Judul : Mukjizat Puasa Ramadhan
Penulis : AN Ubaedy
Penerbit : Grafindo Khazanah Ilmu
Terbit : Juli 2009 (Cetakan II)
Tebal : 151 Halaman

Puasa, Sarana Melejitkan Ketakwaan

BERPUASA di bulan Ramadan bagi umat Islam wajib hukumnya. Kewajiban berpuasa selama sebulan penuh di bulan suci ini, bukan sekadar mengandung perintah menjalankan syariat agama saja. Lebih dari itu, berpuasa di bulan Ramadan ternyata banyak manfaat yang bisa diperoleh, baik menjaga kesehatan tubuh, maupun meningkatkan kualitas diri.

Berbagai keistimewaan di bulan Ramadan tentunya merupakan fasilitas yang luar biasa bagi Muslim untuk menempa diri menjadi manusia yang berkualitas dan lebih baik. Siapa yang mampu memaksimalkan fasilitas yang istimewa ini, seperti dijanjikan Allah SWT dalam Alquran, maka akan meraih gelar sebagai insan yang bertakwa.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa,” (Al-Hujuraat: 13).

Seperti apa orang yang bertakwa? Apakah benar orang yang tidak pernah berbuat salah dan ibadahnya sangat rajin disebut bertakwa? Secara garis besar orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki prestasi hidup (dalam arti positif seperti peningkatan amal ibadah) yang terus meningkat dan memperoleh keselamatan. Jadi, kunci kemuliaan seseorang adalah peningkatan dan keselamatan.

Dalam buku Mukjizat Puasa Ramadhan karya AN Ubaedy dikupas secara runut dan sederhana bagaimana puasa menempa manusia menjadi bertakwa. Bukan hanya karena dijanjikan dilipatgandakan segala amal baik, yang memicu peningkatan dalam beribadah.

Ternyata puasa menjadi sarana untuk mengembangkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual manusia. Dalam buku ini dijelaskan bagaimana puasa bisa menempa kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual manusia. Sehingga manusia bisa menyadari potensi dalam dirinya sendiri dan mengembangkan visi hidup yang lebih maju.

Buku setebal 151 halaman yang diterbitkan Grafindo Khazanah Ilmu ini juga mengungkapkan betapa besarnya manfaat puasa bagi kesuksesan dan kebahagiaan. Sebab, dengan puasa kita ditempa mengendalikan hawa nafsu dan membersihkan jiwa. Kedua hal itu membuat manusia selamat dari berbagai keburukan dan bahaya.

Seperti kata pepatah, yang paling dibutuhkan manusia agar bisa selamat adalah peringatan (reminder) bukan pengetahuan baru atau skill baru. Melalui ibadah puasa selama Ramadan, yang jatuh sekali dalam 12 bulan, manusia juga diingatkan untuk meningkatkan amal ibadah dan menghindari segala perbuatan yang buruk.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang mengalir sehingga mudah dipahami, hanya saja perlu sedikit ketelitian mengedit agar tidak banyak kesalahan menulis kata, apalagi sudah cetakan ke-2. Karena kesalahan penulisan membuat kenikmatan membaca menjadi terganggu, seperti kata eling ditulis eleng. (wasis wibowo)

Saturday, 5 September 2009

Resensi Buku Baru | If She Only Knew


Judul : If She Only Knew
Penulis : Lisa Jackson
Penerbit : Dastan Books
Terbit : Juli 2009
Tebal : 498 Halaman

Menguak Skandal Perebutan Harta Keluarga

SEORANG perempuan yang baru lolos dari kecelakaan maut, meski mengalami luka parah, merasa heran ketika banyak orang yang menyapanya dengan Mrs Marla Cahill. Dia semakin terkejut mengetahui dirinya sudah menikah dan memiliki suami bernama Alex. Namun, dia tak bisa menyanggah, selain luka yang begitu parah, ingatan tentang dirinya pun seakan hilang.

Akhirnya dia pun mencoba menerima dirinya bernama Marla dan tinggal di sebuah rumah mewah. Namun, dia merasa ada yang ganjil, mengapa suaminya tak pernah tidur sekamar dengannya, bahkan anjing kesayangan di rumahnya selalu menggonggong kepada dirinya.
Timbullah keinginan untuk mengetahui siapa jati diri yang sebenarnya dan mengungkap beberapa keganjilan yang dialaminya. Pertemuannya dengan Nick, adik suaminya Alex, membuat upaya menyatukan kepingan tentang dirinya semakin terbuka lebar.

Dalam novel If She Only Knew karya Lisa Jackson yang diterbitkan Dastan Books ini menyajikan kisah yang mendebarkan usaha seorang perempuan mengungkap jati dirinya. Novel setebal 498 halaman ini pun mampu mengaduk-aduk perasaan pembaca melalui adegan ketegangan yang disajikan, sehingga menjadi menarik untuk terus mengikuti alur ceritanya.

Akhirnya perempuan yang disapa Marla ini mengetahui bahwa dia sebenarnya bernama Kylie Paris. Dia memiliki wajah sama dengan Marla karena berasal dari ayah sama, seorang jutawan terpandang. Klyie pun sadar bahwa dirinya hendak dibunuh dan anak lelaki yang baru dilahirkan hendak dirampas.

Mengapa dia hendak dibunuh? Padahal sejak kecil dia sudah dibuang karena dianggap sebagai anak haram. Berbeda dengan Marla yang dianggap anak sah dan mewarisi harta ayahnya. Temukan jawaban yang mengejutkan di akhir novel ini tentang misteri perebutan harta keluarga yang begitu pelik, penuh skandal, dan perselingkuhan.(wasis wibowo)

Friday, 4 September 2009

Resensi Buku Baru | Divine Madness


Judul : Divine Madness, Sketsa Biografi Sastrawan ‘Gila’
Penulis : Tri Wibowo BS
Penerbit : Kakilangit Kencana
Terbit : Juni 2009
Tebal : 260 Halaman

Kegilaan dan Kreativitas Sastrawan Terkenal

NOVELIS abad ke-19 George Sand mengatakan, batas antara kegeniusan dan kegilaan tak lebih besar dari sehelai rambut. Bahkan Aristoteles pernah menyebutkan tak ada kegeniusan besar yang tidak tersentuh kegilaan.

Tak heran bila sebagian besar filsuf Yunani kuno beranggapan sebuah proses kreatif pasti melibatkan kemunduran proses mental (regresi). Seperti kata Socrates, seorang penyair tak akan bisa mencipta kecuali dia kehilangan akal dan mendapat ilham.

Jadi, secara tak langsung mereka pun mengakui bahwa kegilaan ilahiah (divine madness) sebagai berkah para dewa sebagai sumber inspirasi. Kita –masyarakat awam- pun seolah memahami dan memberi toleransi bila melihat para sastrawan, seniman yang berperilaku aneh. Misalnya, berambut gondrong, penampilan kumuh, dan bertingkah aneh. Bahkan perilaku seperti itu sering dianggap sebagai eksentrik.

Secara umum, kita pun suka atau terpesona pada orang-orang yang genius dan eksentrik. Bukti itu bisa ditunjukkan dengan bagaimana kita sering mengagumi karya sastrawan atau seniman macam, Vincent van Gogh, Kurt Cobain, Virginia Wolf, Ernest Hemingway, sampai Chairil Anwar. Sekalipun mereka punya sikap yang aneh, seperti Van Gogh memotong telinganya dan diserahkan kepada pelacur yang dicintai atau Kurt Cobain yang meninggal bunuh diri.

Dalam buku Divine Madness, Sketsa Biografi Sastrawan ‘Gila’ karya Tri Wibowo BS diungkap sisi gelap para sastrawan terkenal dunia. Buku yang diterbitkan Kakilangit Kencana setebal 260 halaman ini tak sekadar menyajikan keesentrian para sastrawan tersebut, juga menampilkan kisah tragis dari sekitar 65 sastrawan hebat dunia.

Mulai dari Horace sampai Alexandre Dumas, kisah tragis Sadeq Hedayat sampai kegilaan Yukio Mishima. Atau Friedrich Nietzsche yang mengalami depresi mental sampai kisah Franz Kafka yang selalu gagal dalam cinta dan meninggal digerogoti penyakit TBC. Ada juga kehidupan misterius sastrawan perempuan macam Emiliy Dickinson sampai Virginia Wolf yang mengalami penyimpangan seksual hingga mengalami depresi berat.

Buku ini memaparkan sisi gelap kehidupan para sastrawan yang dikenal sangat kreatif. Bahkan karya-karyanya begitu melegenda dan menjadi avant garde yang dikenang sampai sekarang. Siapa yang tak kenal dengan konsep Carpe Diem (Nikmati Hari Ini) dalam sajak Horace.

Begitu juga dengan Novel The Three Musketeers karya Alexandre Dumas sehingga diangkat ke layar lebar dan memopulerkan frase All for one, one for all. Juga diungkap bagaimana kondisi kesehatan, mental, dan kehidupan yang dialami begitu mempengaruhi para sastrawan melahirkan karya-karya besarnya.

Misalnya Kafka dalam membuat cerpen Die Vervandlung (Metamorfosa) yang mengekspresikan alienasi manusia banyak dipengaruhi oleh kondisi kesehatannya. Ada pula Friedrich Nietzsche yang kehidupannya begitu tertekan dan mengalami depresi melahirkan, mewujudkan gagasan filosofi terkenal dan provokatif tentang “Tuhan telah mati” dalam bukunya berjudul Ubermensch (Manusia Super).

Namun, apakah setiap kreativitas harus berasal dari sisi gelap manusia? Itu masih harus diperdebatkan. Walaupun fenomena kegeniusan dan kegilaan tidak bisa disebut sebagai fenomena yang kasuistik.

Paling tidak buku ini menarik untuk dijadikan pelajaran, bagaimana manusia mendobrak batas-batas dalam dirinya untuk melahirkan karya hebat. Juga, tentang bagimana manusia ternyata begitu rapuh menghadapi kehidupannya yang gamang. (wasis wibowo)

Thursday, 3 September 2009

Resensi Buku Baru | The Sedona Methode


Judul : The Sedona Methode
Penulis : Hale Dwoskin
Penerbit : Ufuk Publishing House
Tebal : 476 Halaman
Terbit : Juli 2009

Melepas Belenggu Emosi untuk Raih Kebahagiaan

MANUSIA diciptakan memiliki hawa nafsu yang selalu menyelimuti dalam pikiran dan emosi. Hawa nafsu inilah yang sering mempengaruhi tingkah laku manusia dalam berinteraksi dan melakukan berbagai aktivitas. Karena itu, hawa nafsu yang membawa manusia menjadi sosok yang baik sekaligus membuat terperosok menjadi makhluk yang buruk.

Untuk menjadi manusia yang baik, tentu tak bisa dilakukan dengan cara menghilangkan hawa nafsu. Sebab, hawa nafsu tak bisa dilenyapkan dalam diri manusia. Tak ada kekuatan yang mampu menghilangkan hawa nafsu, sehingga segala upaya untuk melenyapkan hawa nafsu akan membuat manusia menderita.

Namun, bila manusia membiarkan hawa nafsu menguasai dirinya, maka dia akan menjadi liar. Hal itu, jelas bisa mengiring manusia ke dalam berbagai keburukan, bahkan menghancurkan diri sendiri. Meski demikian, hawa nafsu bisa dikendalikan. Dan, manusia yang bisa mengendalikan hawa nafsunya akan mencapai kebahagiaan.

Untuk mengendalikan hawa nafsu dapat dilakukan dengan berbagai metode dan pendekatan yang telah banyak dikembangkan saat ini. Salah satunya melalui pendekatan psikologi dengan menggunakan metode Sedona. Kunci dari metode Sedona adalah dengan melepaskan (letting go).

Metode terbaru ini dianggap sebagai yang terbaik dan teknik lanjutan bagaimana mengendalikan hawa nafsu yang menyelimuti emosi dan pikiran manusia. Selama ini dalam psikologi dikenal dua cara yang popular, yaitu menekan dan mengekspresikan. Metode Sedona ini terbukti mampu melepaskan belenggu emosi dan pikiran buruk manusia untuk mencapai kebahagiaan.

Untuk mengetahui lebih dalam tentang Metode Sedona, semua diuraikan secara apik dalam buku The Sedona Methode karya Hale Dwoskin yang diterbitkan Ufuk Publishing House. Buku setebal 476 halaman ini secara garis besar terbagi dalam dua bagian, pertama mengajak kita menjelajahi proses atau teknik pelepasan (letting go) dasar dan motif-motif yang membatasi manusia mencapai kebahagiaan. Bagian kedua, kita akan diajak menjelajahi beberapa wilayah hidup manusia yang bisa dipengaruhi dengan metode Sedona.

Buku ini menjelaskan secara sedehana penerapan Metode Sedona, hanya dengan mengajukan tiga pertanyaan kepada diri sendiri. Ketiga pertanyaan itu, adalah Bisakah?, Bersediakah?, dan Kapan?. Ketiga hal itu bisa dilakukan dengan menutup mata seperti bermeditasi atau menuliskannya di atas kertas.

Dengan cara yang sederhana ini, kita diajarkan untuk melepaskan sembilan kondisi emosi yang selalu melekat pada manusia. Di antaranya, perasaan lesu, nafsu, sedih, takut, marah, bangga, semangat, menerima, dan ikhlas. Metode ini mampu melepaskan berbagai beban yang sering melenggu manusia dan mengantarkan meraih kebahagiaan yang diimpikan.

Buku ini menarik karena tak hanya berisi penjelasan tentang Metode Sedona, juga disertakan panduan bagi kita untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Membaca buku ini sama dengan kita mengikuti kelas-kelas yang mengajarkan Metode Sedona. Alangkah lebih baiknya bila ada seorang pembimbing agar berbagai instruksi bisa dilakukan dengan baik. (wasis wibowo)